Rumah Tradisional Tahan Gempa

2 10 2009
Gempa nampaknya tidak akan meninggalkan kehidupan kita dalam waktu dekat, untaian kejadian gempa bumi skala besar terus melanda negeri mulai dari gempa Papua, Aceh – Nias, Jogja, Pangandaran, Tasik kemudian disusul gempa Padang dan Jambi yang saat ini korban masih dihitung.

Dalam kurun waktu hanya 100 tahun, US Geological Survey (USGS) mencatat ada 43 gempa besar terjadi di Indonesia dengan kekuatan antara 6,5 sampai 9,1 SR. Korban jiwa yang diakibatkan oleh gempa-gempa besar ini mencapai hampir 250.000 jiwa. Tentu, kita masih tak bisa melupakan gempa 9,1 SR disusul mega tsunami di Sumatera dan Kepulauan Andaman (Tsunami Aceh) di penghujung 2004. Korban jiwa ketika itu mencapai 228.000 jiwa.

Saya sendiri sangat trenyuh ketika melihat berita-berita yang menanyangkan betapa masif kehancuran baik infrastruktur dan terutama korban jiwa yang terjadi di Kota Andalas tersebut, saya sendiri belum pernah ke kota Padang, tapi saya sangat hapal betapa konstruksi Rumah Gadang ini kerap terlihat di rumah makan Padang yang tersebar dimana pun di kota – kota Indonesia, bahkan di Kota Garut sebuah resort dibangun dengan model rumah gadang ini.
Secara awan saya merasa walaupun rumah gadang ini sangat estetis dan indah, namun kemajuan zaman telah membawa bangunan – bangunan yang boleh kita sebut “sabuk gempa Indonesia” sama sekali tidak ramah gempa, rumah gadang pun tak luput dari perkembangan zaman. Pada zaman dulu, rumah gadang berasal dari desain para pelaut yang hanya bisa membuat kapal sehingga rumah – rumah di Sumatera Barat mirip dengan kapal. Namun dalam pandangan awam saya, apabila rumah Gadang ini yang tadinya dibangun menggunakan bahan kayu dan zaman sekarang diakulturasikan dengan modernisasi yakni mengganti penggunaan kayu dengan beton, saya tidak bisa memperkirakan betapa berat beban yang diberikan atap rumah gadang yang menjulang tersebut terhadap pondasi dasar rumah, entahlah… kita harus berbicara dengan ahli konstruksi soal ini.
Yang pasti, saya sering membaca mengenai kelebihan dari rumah – rumah kayu atau bambu yang lebih lentur terhadap gempa. Salah satu contohnya yaitu rumah – rumah kayu yang terdapat di Tasikmalaya tidak rubuh, bahkan saya membaca dalam sebuah artikel bahwa rumah panggung yang bertiangkan kayu dan berdindingkan bilik di Tasikmalaya tetap kokoh berdiri setelah diguncang gempa 7,3 SR. Seorang ibu, bahkan dengan santainya melakukan aktivitas hariannya membersihkan rumah. Sang ibu mengaku dirinya tidak khawatir akan kondisi rumahnya paska gempa. Ketika orang lain mengungsi ke tenda-tenda darurat, dirinya dan keluarga masih bisa tidur dengan nyaman dan aman di rumah.

(Beton VS Kayu: Rumah kayu bertembok anyaman bambu nampak kokoh dibanding rumah beton di sebelahnya yang ambruk)

Nah, berhubung saya benar – benar awam mengenai  bagaimana membangun sebuah rumah yang ramah terhada gempa, alhamdulillah saya telah menemukkan beberapa artikel yang kiranya dapat kita promosikan kepada seluruh saudara, teman, sahabat dan semua orang yang kita temui yang tinggal di daerah rawan gempa untuk “back to basic” yaitu kembali ke ajaran leluhur kita dimana tiap – tiap daerah memiliki rumah adat yang hampir semuanya tahan gempa. benarkan itu
Dalam sebuah artikel tentang penelitian rumah adat tradisional yang tahan gempa, saya mengutip tulisan yang sangat bermanfaat dari Dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makassar (Untuk artikel asli, silahkan klik disini) dimana penulisnya ketika membaca berita gempa Manokwari, mencoba meng-explore rumah-rumah tradisional kita sebagai sebuah hasil dari kearifan lokal. Secara empirik, rumah-rumah warisan nenek moyang inilah yang mampu bertahan ratusan tahun dari guncangan gempa.

Orang-orang mungkin belum bisa menghitung kekuatan gempa ketika itu. Rumah tradisional menarik untuk dikaji, karena secara faktual sudah banyak masyarakat meninggalkan model hunian ini. Kita telah melihat sendiri, bahwa sangat sulit menemukkan rumah – rumah tradisional ini. Yulius Prihatmaji dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur (2007) mencoba menjawabnya mengenai ketahanan rumah tradisional inisecara eksperimental. Dengan mengambil sampel rumah Jawa (Joglo), Prihatmaji melakukan pengujian model struktur di atas meja getaran. Perlu diketahui bahwa rumah Joglo merupakan bentuk hunian tradisonal yang tersebar di Jawa, dari Cirebon hingga Banyuwangi. Daerah-daerah ini merupakan daerah aktif gempa dengan kategori gempa III.

Tahan Gempa
Prihatmaji menemukan bahwa ada tiga alasan mengapa rumah Joglo lebih tahan terhadap gempa. Pertama, rangka utama (core frame) yang terdiri umpak, sokoguru, dan tumpang sari, dapat menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa. Inilah kunci utama mengapa rumah Joglo masih dapat berdiri ketika gempa Yogyakarta pada Mei 2006, di saat rumah atau gedung lain mengalami keruntuhan.

Alasan kedua, adalah bahwa struktur rumah Joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, dan juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa.

Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur, dan konfigurasi kolom anak (soko-soko emper) terhadap kolom-kolom induk (soko-soko guru) merupakan earthquake responsive building dari rumah Joglo. Oleh karenanya, dengan sistem ini, rumah Joglo lebih stabil pada frekuensi gempa tinggi dengan akselerasi rendah-tinggi. Sedangkan pada frekuensi gempa rendah, rumah Joglo lebih fleksibel. Hanya saja, Prihatmaji mengungkapkan rumah Joglo hanya tahan pada daerah gempa III. Lebih dari itu, rumah jenis ini memerlukan beberapa modifikasi.

Selain rumah Joglo, rumah tradisional Nias juga termasuk dikategorikan rumah tahan gempa. peristiwa gempa berkekuatan 8,6 SR pada Maret 2005 lalu telah membuktikan itu. Menurut Koen Meyers dan Puteri Watson dalam “Legend, Ritual and Architecture on the Ring of Fire” (2008), fleksibilitas rumah Nias yang membuatnya lebih tahan terhadap gempa. Hal ini dikarenakan ikatan antara balok kayu saling mengunci tanpa dipaku.

Selain itu, secara struktur, rangka rumah Nias terdiri dari kolom (enomo) dan balok (ndriwa). Kolom-kolom bertumpu di atas batu besar sebagai penguat untuk menghadang terpaan angin. Diantara kolom utama, terdapat kolom-kolom diagonal yang saling kait mengait menyokong lantai rumah yang berbentuk oval atau persegi. Kolom inilah yang berfungsi sebagai lateral dan longitudinal bracing. Teknik pasak pada sambungan kayu membuat balok-balok kayu tidak patah ketika terjadi gempa.

Menurut Meyers dan Watson, kolom diagonal inilah yang menjadi kunci mengapa rumah Nias bisa elastis dan stabil dari guncangan gempa. Kesimpulan yang sama juga diungkapkan oleh Jacques Dumarcay dalam The House in South-East Asia, dan Evawani Eliisa-peneliti rumah Nias di tahun 2000.

Hingga sekarang, rumah Nias masih bisa dijumpai di Bawomataluo, Hilisimaetano, Sihare’o Siwahili, dan Como.

Bergerak Elastis
Hampir semua rumah tradisional di Indonesia tahan terhadap gempa. Menurut Marco Kusumawijaya, arsitek dan pengamat tata kota (Sinar Harapan, Nopember 2008), hampir semua rumah tradisional fleksibel dan stabil terhadap gempa. Hal ini dikarenakan struktur kayu yang ada pada rumah tradisional tidak sekaku dengan struktur beton. Jika mengalami getaran atau gempa, ikatan antara balok dan kolom pada rumah tradisional mampu bergerak elastis.

Berayun mengikuti guncangan gempa tanpa mengalami kerusakan. Marco memberi contoh rumah Bali dan Minahasa. Perlu diketahui, rumah Minahasa adalah rumah tradisional yang didiami mereka yang bertempat tinggal di Sulawesi Utara, daerah yang paling sering mengalami gempa (kategori I).

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh pendiri Assosiasi Ahli Gempa Indonesia, Teddy Boen. Ketika melakukan survei gempa ke Nabire Papua pada tahun 2004, Boen menemukan bahwa dari 45 persen rumah yang rusak, semuanya adalah rumah konvensional yang terbuat dari struktur bata. Namun, yang masih bertahan adalah rumah tradisional dari kayu. Hal yang sama juga ditemui, ketika Boen berkunjung ke Alor Nusa Tenggara Timur, rumah tradisionallah yang dapat bertahan terhadap gempa.

Budi Brahmatyo, ahli Geologi dari ITB Bandung, juga menemukan fenomena serupa. Ketika berkunjung ke Sungaipenuh Kerinci pada tahun 1999. Rumah-rumah tradisional di daerah tersebut masih dapat berdiri tegak pada peristiwa gempa. Konstruksi rumah tradisional di sepanjang Bukit Barisan memang didesain untuk tahan terhadap gempa.

Tiang-tiang rumah dihubungkan dengan palang-palang yang dapat berputar bebas seperti engsel pada jarak tertentu. Jadi ketika terjadi gempa, rumah ini dapat ikut bergoyang elastis tanpa harus runtuh. Demikian pula, di tahun 2005, Brahmatyo menemukan rumah panggung di daerah Pacet Bandung Selatan tetap saja berdiri, padahal rumah-rumah berdinding bata di sekitarnya sudah banyak yang runtuh.

Kearifan Tradisional
Dari sekian banyak paparan di atas, secara empirik dan eksperimental, rumah tradisional Indonesia secara umum bisa dikatakan tahan terhadap gempa. Mungkin kita masih menunggu hasil-hasil riset dari ahli struktur terhadap rumah tradisional yang lain. Khususnya mengenai ketahanan gempa dari rumah tradisional di Sulawesi Selatan seperti rumah adat Bugis-Makassar, rumah Tongkonan Tana Toraja, dan rumah adat Mandar.

Sebenarnya sudah cukup banyak model rumah tahan gempa didesain pascagempa dan tsunami Aceh. Seperti model Smart Modula dan Risha. Akan tetapi, rumah tradisional nusantara menjadi alternatif yang sangat memungkinkan untuk dimasyarakatkan kembali. Terutama bagi mereka yang berdiam di daerah-daerah rawan gempa. Sudah saatnya kita kembali ke rumah tradisional, warisan nenek moyang kita.

Namun keinginan masyarakat untuk membangun rumah tradisional sudah semakin menurun. Hal ini banyak disebabkan oleh biaya konstruksi rumah yang sebagian besar dari bahan kayu relatif mahal terhadap konstruksi konvensional batu bata. Selain itu, daya tahan kayu terhadap pelapukan, rayap dan api masih rendah.

Masih perlu pengembangan teknologi untuk dapat mengolah kayu agar lebih tahan lama. Faktor lain yang nampaknya menjadi faktor utama adalah, pandangan masyakarakat yang menganggap rumah tradisional adalah bagi mereka yang berstatus sosial rendah, dan terbelakang.

F. Rahardi, seorang penyair dan budayawan mengatakan kini rumah tradisional yang tangguh terhadap alam sudah tergilas oleh rumah modern. Ini diibaratkan oleh kearifan tradisional yang berkonotasi miskin dan bodoh, terkalahkan oleh kultur modern yang tanggung. Alangkah naifnya.

Nah demikianlah tulisan yang disajikan oleh Dosen Teknik Sipil Unhas tersebut, saya Insya Allah akan terus mencari informasi kepada ahlinya baik melalui dunia maya maupun bertanya langsung mengenai konstruksi rumah tradisional ini yang bisa kita kampanyekan kepada masyarakat bahwa banyak orang termasuk saya tinggal di daerah rawan gempa.
(Tulisan ini dibuat untuk mengenang korba gempa di tanah air terutama di Bumi Andalas Sumatera Utara yang saat ini luluh lantak akibat gempa 7,6 SR disusul gempa Jambi 7,0 SR. Semoga korban meninggal di berikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, korban luka secepatnya diberikan kesehatan dan korban selamat diberikan ketabahan. Saya juga bangga, sangat berterimakasih dan kagum dengan TNI, Polisi, tim SAR, Dokter juga relawan yang terus melakukan evakuasi dan penyelamatan yang tidak kenal lelah bahkan lupa makan dan minum demi mencari korban selamat diantara puing reruntuhan beton yang sangat berat, kalianlah pahlawan bangsa yang patut kami banggakan dan pelindung sejati bumi pertiwi, semoga Allah SWT memberikan kalian balasan berlipat – lipat baik di dunia maupun di akhirat atas apa yang kalian lakukan)
Source:
Kredit Gambar





PENDEKATAN DALAM MENGAJAR

29 09 2009
Dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran yang optimal, kita memerlukan strategi dalam belajar mengajar, dimana strategi ini berkaitan erat dengan metode yang digunakan dan pendekatannya

Untuk lebih mengenal lebih dekat dengan startegi belejar mengajar, metode dan pedekatan, beberapa pengertian dari para ahli, yakni:
Strategi berasal dari kata stratagem yakni siasat atau rencana (Mcleod dalam Muhhibin Syach, 1995;215) dimana strategi ini padanan katanya relevan dengan approach (pendekatan) dan procedure (tahapan kegiatan).
Dalam perspektif psikologi bahwa strategi ialah seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan (Reber dalam Muhhibin Syach, 1995;215).
Menurut Drs. Gunawan Undang Dkk (1997;16) bahwa strategi ialah kumpulan metode dalam mencapai suatu tujuan, sedangkan metode ialah kumpulan sejumlah teknik, taktik atau cara kerja dalam menyampaikan materi guna mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Dalam proses belajar mengajar kita juga mengenal pendekatan dalam belajar yang artinya pola atau dasar berfikir dalam melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan seorang guru akan menentukan strategi dan metode akan ditentukan oleh pilihan strateginya. Dimana skemanya adalah
 Pendekatan —-> strategi —->metode —->tujuan

Dari beberapa pengertian diatas, Muhhibin Syach (1995;215) mengartikan Strategi Belajar Mengajar sebagai sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu.
 Strategi ini dapat berlaku umum bagi guru asal bidang studi itu memiliki orientasi yang sama. Sesuai dengan pendapat Drs. Undang Gunawan bahwa strategi belajar mengajar meliki pendekatan dan metode maka pendekatan dan metodenya akan dibahas menurut pandangan beberapa ahli.
A. PENDEKATAN GURU DALAM MENGAJAR
Dalam menyiasati pelaksanaan belajar mengajar guru dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kondisi, menurut Djauzak Ahmad (Depdikbud, 1995;44) bahwa faktor yang harus disesuaikan adalah
  • Kemampuan (baik siswa maupun guru)
  • kekhasan bahan pelajaran
  • keadaan sarana dan keadaan siswa
Pendekatan-pendekatan yang lazim dilakukan oleh para pengajar adalah
1. Pendekatan Lingkungan
Kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini dimulai atau mencakup hal-hal atau peristiwa yang pernah dialami dan terdapat pada lingkungan siswa, dimana penyampaian bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami dan lebih bermakna karena bertitik tolak dari sesuatu yang nyata. Contoh: lingkungan alam, sosial dan budaya ini dapat dipakai sebagai wahana dan sumber belajar. Semua mata pelajaran dapat menggunakan pendekatan ini pada kegiatan pembelajarannya.
2. Pendekatan Penemuan (inkuiri)
 Dimana mendorong siswa untuk melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan melakukan kegiatan penelitian secara sederhana. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan mengumpulkan data melalui pengamatan, mencatat dan menafsirkan data, serta mengambil kesimpulan. Kesimpulan ini berupa pengetahuan yang harus dimiliki siswa misalnya konsep, prinsip, kaidah atau penjelasan mengenai satu benda atau peristiwa. Beberapa metode dapat digunakan secara terpadu dalam pendekatan inkuiri misal: Metode eksperimen, widyawisata, diskusi, tanya jawab dan lain-lain
3. Pendekatan Konsep
Konsep ini dipusatkan pada pengembangan konsep dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai, dimana penting untuk mencegah diajarkannya fakta yang terlepas-lepas sehingga kurang bermakna. Secara umum pembelajaran ini dilaksanakan sebagai berikut:
 Siswa melakukan kegiatan pengamatan (dengan satu atau lebih indera) untuk mengumpulkan berbagai informasi, mencatat dan memilih informasi yang sesuai serta menafsirkannya, dan digeneralisasikan berupa konsep.
4. Pendekatan keterampilan proses
 Dimana menekankan penggunaan keterampilan proses dalam pembelajatan. Keterampilan proses berguna bagi siswa untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep. Keterampilan proses meliputi keterampilan mengamati, menafsirkan hasil pengamatan atau informasi, berkomunikasi hasil pengamatan atau informasi, berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, merancang dan merencanakan kegiatan terutama kegiatan eksperimen serta menerapkan konsep. Pendekatan ini selalu digunakan bersama-sama dengan pendekatan konsep. Pendekatan ini lebih cocok untuk digunakan pada penyusunan program mata pelajaran ilmu Pengetahuan alam dalam GBPP.
5. Pendekatan Pemecahan Masalah
 Pendekatan ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengenali masalah, menyusun berbagai gagasan atau kemungkinan pemecahan masalah. Merencanakan dan melaksanakan cara memecahkannya serta mengkomunikasikan hasilnya
6. Pendekatan deduktif Induktif
 Disini siswa menarik kesimpulan dari sejumlah fakta yang berhubungan satu sama lain yang diperoleh melalui pengamatan atau cara lain yang diperoleh melalui pengamatan atau cara lain. Sebaliknya, pendekatan deduktif menghadapkan siswa pada sesuatu yang berlaku umum lebih dahulu misalnya yang berupa konsep, prinsip atau hukum kemudian mengumpulkan berbagai fakta yang mendukung pernyataan tersebut. Pendekatan ini lazimnya untuk Matematika, IPS dan IPA.
7. Pendekatan Sejarah
 Dimaksudkan untuk menunjukan kepada siswa bahwa ilmu berkembang berkat ketekunan para ilmuwan. Disini kita mengarahkan siswa agar berfikir secara ilmiah, tekun dan ulet dalam belajar. Pendekatan ini berguna dalam memberikan dorongan kepada siswa untuk berfikir secara ilmiah, tekun dan ulet dalam belajar. Cocok diaplikasikan untuk kelompok pelajaran IPA, IPS dan Matematika
8. Pendekatan Nilai
 Ditekankan lebih kepada nilai moral, estetika dan sebagainya yang terkandung dalam pelajaran Agama, PKn, Bahasa, IPA, IPS, Kertakes dan Mulok
9. Pendekatan Komunikatif
 Pendekatan ini mengutamakan pembelajaran bahasa pada pemahaman dan keterampilan penggunaan bahasa secara nyata dan wajar. Pembelajaran ini menciptkana kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa berkomunikasi untuk pelbagai tujuan dan keadaan
10. Pendekatan Tematik
Pendekatan ini digunakan dalam pengembangan dan perluasan bahan kajian melalui tema-tema dan meliputi berbagai aspek kehidupan siswa yang menjadi pemersatu aspek kehidupan siswa yang menjadi pemersatu kegiatan belajar. Tema dalam Bahasa Indonesia digunakan sebagai pemersatu kegiatan belajar dalam pengembangan kemampuan berbahasa yaitu keterampilan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara serta penguasaan kosakata dan struktur. Pendekatan ini juga digunakan dalam mata pelajaran PKn. Pendekatan ini digunakan baik dalam penyusunan program maupun dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
B. METODE MENGAJAR
Dalam memilih metode pengajaran guru dapat memilih dan menentukkannya lewat analisis terlebih dahulu terhadap beberapa faktor yaitu:
1. Kemampuan guru
2. Tujuan Pembelajaran
3. Kekhasan bahan pelajaran
4. Keadaan sarana dan prasarana
5. Keadaan siswa
 6. Asas pengembangan kurikulum.
Metode-metodenya yakni:
1. Metode penugasan
 Metode ini merupakan suatu cara pemberian kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan guru. Dalam melaksanakan tugas ini siswa dapat memperoleh pengalaman secara langsung dan nyata. Tugas dapat diberikan secara berkelompok atau perorangan. Dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan dan pembasaan untuk kerja mandiri serta sikap jujur.
2. Metode eksperimen
Yaitu suatu cara memberikan kesempatan kepada siswa secara perseorangan atau kelompok untuk berlath melakukan suatu proses percobaan secara mandiri. Melalui metode ini siswa sepenuhnya terlibat, antara lain dalam merencanakan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, merumuskan konsep, prinsip atau hukum. Selanjutnya siswa pun dapat melakukan pengujian atau pembuktian terhadap prinsip yang telah ditemukan melalui eksperimen verifikatif. Ini berguna untuk mengembangkan sikap ilmiah siswa.
3. Metode proyek
 Dimana merupakan suatu cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan mengembangkan sebanyak mungkin pengetahuan yang telah diperoleh dari berbagai mata pelajaran. Metode ini membahas suatu tema atau unit pelajaran dimana diharapkan siswa dapat dilatih baik secara individual maupun kelmpok untuk menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas, memantapkan penghargaan terhadap lingkungan, meningkatkan penghargaan terhadap lingkungan, memahami dan berupaya memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, serta menyalurkan minat yang memungkinkan baik dilihat dari segi waktu atau bahan pelajaran dari berbagai mata pelajaran.
4. Metode diskusi
Yaitu suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui wahana tukar pendapat dan informasi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh guna memecahkan suatu masalah, memperjelas sesuatu bahan pelajaran dan mencapai kesepakatan. Dalam metode ini pengembangan berpusat pada, keterampilan bertanya, mengemukakan pendapat, sikap-sikap kritis, skeptis, toleran, kemampuan mengendalikan emosi dan sebagainya dapat dibina melalui penggunaan metode ini. Muhibbin, menambahkan bahwa dalam diskusi ini ada beberapa macam yaitu:
• Diskusi Informal
Diskusi ini aturannya lebih longgar karena tidak resminya dan kelompoknya tidak terbatas, bahkan satu orang bisa tampil sebagai pemimpin tanpa pembantu atau wakil, contohnya diskusi keluarga.
• Diskusi formal
Dimana diskusi ini sangat ketat aturannya, memiliki tata tertib dan jumlah peserta diskusi jauh lebih banyak bahkan dapat melibatkan hampir seluruh kelas. Terdapat pemimpin (moderator) dan sekretais (notulen). Notulen ini berisi pertanyaa, jawaban, sanggahan, saran dan kesimpulan dalam diskusi. Ekspresi spontan dilarang karena tiap peserta bila hendak bicara harus seizin moderator untuk menjamin ketertiban lau lintas diskusi.
• Diskusi Panel
“Panel” artinya sekelompok pembicara yang dipilih untuk berbicara. Dan kelompok penonton ada yang menjadi peserta aktif yang bisa bertanya, menyanggah dan kelompok non-aktif yang hanya berfungsi sebagai mustamiin saja. Aturan ynag dibuat sama ketatnya dengan diskusi formal.
• Diskusi Simposium
Diskusi ini hampir sama dnegan diskusi lain, perbedaannya terletak pada agenda masalah simposium disampaikan oleh seorang pemrasaran atau lebih. Pemrasaran ini secara bergilir menyampaikan uraian pandangannya mengenai topik yang sama atau salah satu aspek dari topik yang sama.
Metode diskusi juga mempunyai kelemahan yaitu:
  • Jalannya diskusi sering didominasi siswa yang pandai dan mengurangi kontribusi partisipan lain
  • Jalannya diskusi cenderung terpengaruh masalah menyimpang dari inti sehingga pertukaran pikiran menjadi asal-asalan dan bertele-tele
  • Boros waktu dan tidak sesuai dengan prinsip efisiensi (Barlow,1985;Daradjat 1985.).
5. Metode widyawisata
Metode ini ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pembelajaran langsung diobjek yang akan dipelajari yang berada diluar kelas atau dilingkungan kehidupan nyata. Metode ini diterapkan bila objek yang akan dipelajari hanya terdapat di daerah tertentu saja. Berguna memberikan variasi belajar, lebih tertarik terhadap pelajaran yang disajikan sehingga terangsang untuk mencari informasinya dibuku, dan media lainnya. Namun metode ini memerlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang efisien dan efektif dan memiliki kegiatan tindak lanjut berupa laporan, diskusi, deklamasi, pameran sederhana atau evaluasi.
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.
Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :
a) Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b) Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
c) Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :
a) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
c) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
d) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan.
e) Biayanya cukup mahal.
f) Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.
Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjautempat tertentu atau obyek yang lain. Menurut Roestiyah (2001:85) , karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.
Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Persiapan, dimana guru perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusan,
b) Pelaksanaan karya wisata, dimana pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggung jawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu,
c) Akhir karya wisata, pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper yang memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, model-model, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya.
Karena itulah teknik karya wisata dapat disimpulkan memiliki keunggulan sebagai berikut:
a) Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh disekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau ketrampilan mereka,
b) Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka,
c) dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek,
d) Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.
6. Bermain peran
Berupa penguasaan belajar melalui pengembangan imajinasi, daya ekspresi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan ini dilakukan dengan memerankan seseorang dari sejarah, dunia pengetahuan dan lainnya. Ini berguna untuk membuat anak lebih paham dan menghayati pelajaran.
7. Metode Demonstrasi
Adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukkan suatu benda atau cara kerja sesuatu. Benda itu dapat berupa benda sebenarnya ataupun model. Dengan metode ini siswa mampu mengembangkan kemampuan mengamati, menggolongkan, menarik kesimpulan, menerapkan konsep, prinsip atau prosedur dan mengkomunikasikannya kepada siwa lain. Demonstrasi ini dapat dilakukan oleh guru atau siswa yang telah dilatih sebelumnya. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
a) Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .
b) Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c) Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
a) Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.
b) Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
c) Kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
a) Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b) Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
c) Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
8. Metode tanya jawab
Yaitu suatu penyajian bahan pengajaran melalui berbagai bentuk pertanyaan yang dijawab siswa. Metode ini sering digunakan dalam proses belajar mengajar siswa bersamaan dengan metode lain, tanya jawab dapat dilakukan di awal, tengah atau akhir pelajaran. Berguna untuk mengetahui sejauh mana anak memahami pelajaran .
9. Metode latihan
Yaitu berupa pemberian kesempatan kepada siswa untuk berlatih melakukan suatu keterampilan tertentu berdasarkan penjelasan dan petujuk guru. Melalui metode ini dapat dikembangkan keterampilan melalui pembiasaan.
10. Metode ceramah
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
11. Metode pameran
Metode ini digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyajikan dan menjelaskan apa yang telah dipelajarinya. Pameran yang dimaksud dapat berupa pameran kelas atau pameran sekolah dengan memamerkan grafik, model, alat atau gambar ukiran, patung, tanaman dan hasil karya lainnya dibuat oleh siswa. Metode ini bisa sebagai kegiatan puncak dari serangkaian kegiatan lain yang menggunakan metode widyawisata atau proyek.
12. Metode Permainan
Yaitu suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui berbagai bentuk permainan. Bisa berupa teka-teki, papan bergambar (sejenis ular tangga), kotak rahasia, kartu gambar yang dibuat siswa atau guru. Metode ini bertujuan memberikan pengalaman, motivasi, berlatih mengambil keputusan dan pengendalian emosi bila menang atau kalah.
13. Metode cerita
Yaitu suatu cara penanaman nilai-nilai kepada siswa dengan mengungkapkan kepribadian tokoh-tokoh melalui penuturan hikayat, legenda, dongeng dan sejarah lokal. Metode ini dapat digunakan untuk membantu penghayatan nilai dan moral serta pembentukan sikap. Hal ini terjadi karena metode ini lebih mudah untuk membawa emosi siswa ke suasana cerita sehingga siswa menjadi tertarik dan mungkin terharu sehingga akan mempermudah pembentukan sikap.
14. Metode Simulasi
Metode simulasi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui kegiatan praktek langsung tentang pelaksanaan nilai-nilai, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini dapat mengembangkan pemahaman pengetahuan dan penghayatan siswa terhadap sikap dan nilai yang berlaku di masyarakat.
15. Metode resitasi ( Recitation method )
Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri (http://re-searchengines.com/art05-65.html).
 Kelebihan metode resitasi sebagai berikut :
  1.  Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. 
  2. Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Kelemahan metode resitasi sebagai berikut :
  1. Terkadang anak didik melakukan penipuan di mana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temannya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri. 
  2.  Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) 
Sebenarnya dalam pemilihan metode, lebih baik menggunakan prinsip mix and macth (mencampur dan mencocokan) disini Muhhibin Syach memberikan metode-metode yang dicampur yaitu metode ceramah plus, dimana metode ceramah yang tadinya sebagai biang keladi “verbalism” dan budaya “bungkam” dikalangan pelajar maka modifikasi agar membuat kelemahan berbagai metode tertutupi yaitu
1. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT)
2. Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
3. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
 Dalam proses belajar mengajar, kita sering menggunakan berbagai macam metode dan pendekatan. Dan secara tidak sadar kita melakukan “strategi” untuk memerangi ketidaktahuan. Namun terkadang, guru-guru cenderung menggunakan metode termudah seperti metode ceramah yang membuat anak menjadi pasif. Seringkali kita lihat dalam berbagai kegiatan yang memerlukan kemampuan verbal seorang anak, kebanyakan anak tidak mampu mengungkapkan isi hati dan fikiran mereka walaupun mereka pintar dalam hal pelajaran, bahkan untuk sesuatu yang tidak memerlukan pemikiran ilmiahpun sulit untuk berbicara. Namun tiap metode tidak ada yang buruk, hanya masing-masing bisa memiliki “efek samping” bila diberikan dalam dosis terlau sering. Pencampuran metode-metode yang ada boleh jadi menjadi sebuah kebijaksanaan bagi pengajar, selain itu metode-metode itupun menjadi sebuah variasi belajar, dan terkadang metode itu memberikan keleluasaan bagi anak untuk mencoba mengungkap dan memberikan konsep mengenai sebuah ilmu, sebuah penemuan kecil yang diungkapkan murid akan menjadi stimulus untuk mencari yang lebih dan lebih lagi.
Namun sebelum metode, sebuah pendekatan nampaknya penting diketahui hal ini untuk mengoptimalisasi kegiatan belajar dikelas, karena nampaknya kita sering lupa bahwa kita amat terpengaruh oleh semua lingkungan yang kita tinggali. Adalah resiko bagi seorang pendidik untuk mendekati semua lini yang berpengaruh pada proses pelaksanaan pendidikan, karena hasil pendidikan itupun yang menjadi pengaruh terbesar dalam peradaban manusia, tidak ada yang tidak berkembang tanpa pendidikan, bahkan ilmu Allah pun tidak akan berkembang tanpa pendidikan sebagai salurannya, dan setiap perencanaan dan visi manusia itu adalah ideal, termasuk pengembangan sistem pendidikan di negara kita, sudah ideal adanya, tinggal bagaimana akselerasi kita memilih metode dan pendekatan dalam menyusun sebuah strategi, tanpa meninggalkan dasar-dasar pembelajaran yang telah ada dan telah ideal.





RUANG LINGKUP BIMBINGAN DAN KONSELING

29 09 2009
Dalam dunia pendidikan tentu kita mengenal mengenai bimbingan konseling, tujuan utama pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar, yaitu untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek sosial pribadi, pendidikan dan karir sesuai dengan tuntutan lingkungan dan masyarakat, ada beberapa bidang garapan dari bimbingan dan konseling ini, bidang bimbingan yang akan diberikan meliputi tiga bidang garapan

adapun 3 bidang tersebut,yakni:
1. Bimbingan sosial pribadi yang memuat layanan bimbingan yang bersentuhan dengan:

  • Pemahaman diri.
  • Mengembangkan sikap positif
  • Membuat pilihan kegaiatan secara sehat
  • Menghargai orang lain
  • Mengembangkan rasa tanggungjawab 
  • Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
  • Keterampilan menyelesaikan masalah
  • Membuat keputusan secara baik
2. Bimbingan Pengembangan Pendidikan, memuat layanan yang berkenaan dengan:

  • Belajar yang benar
  • Menetapkan tujuan dan rencana pendidikan
  • Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannyaKeterampilan untuk menghadapi ujian
  3. Bimbingan pengembangan karier, meliputi:
 
  • Mengenali macam-macam dan ciri-ciri berbagai jenis pekerjaan
  • Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan
  • Mengeksplorasi arah pekerjaan
  • Menyesuaikan keterampilan, kemampuan dan minat dengan jenis pekerjaan  
 Adapun menurut para ahli, layanan Bimbingan dan Konseling meliputi empat bidang garapan, seperti yang dikemukakan oleh Muro dan Kottman (Ahman, 1998;2530) yakni:
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupannya, dengan muatan materi yakni

  • Self esteem
  • Motivasi berprestasi
  • Keterampilan pengambilan keputusan, merumuskan tujuan dan membuat perencanaan
  • Keterampilan pemecahan masalah
  • Kefektifan dalam hubungan antar pribadi
  • Keterampilan berkomunikasi
  • Keefektifan dalam memahami lintas budaya
  • Prilaku yang bertanggungjawab
2. Layanan responsif
Layanan ini bertujuan untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial pribadi dan karier atau masalah perkembangan pendidikan, muatan materinya mencakup:
  • Kesuksesan akademik
  • Kenakalan anak
  • Masalah putus sekolah
  • Kehadiran
  • Sikap dan prilaku terhadap sekolah
  • Hubungannya dengan teman sebaya
  • Keterampilan studi
  • Penyesuaian di sekolah baru
3. Sistem perencanaan individual
Tujuan layanan ini adalah membantu siswa untuk merencanakan, memonitor dan mengelola rencana pendidikan, karir dan pengembangan sosial pribadi oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, melalui sistem perencanaan individual siswa dapat:
  • Mempersiapkan pendidikan, karir, tujuan sosial pribadi yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
  • Merumuskan rencana untuk mencapai tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan tujuan jangka panjang.
  • Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya
  • Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya
  • Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya
4. Sistem pendukung
Komponen sistem pendukung lebih diarahkan kepada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung bermanfaat bagi siswa. Layanan ini mencakup:
  • Konsultasi dengan guru-guru
  • Dukungan bagi program pendidikan orang tua dan upaya-upaya masyarakat
  • Partisipasi dalam kegiatan sekolah bagi peningkatan perencanaan dan tujuan
  • Implementasi dan program standarisasi instrumen tes
  • Kerja sama dalam melaksanakan riset yang relevan
  • Memberikan masukan terhadap pembuat keputusan dalam kurikulum pengajaran, berdasarkan perspektif siswa
Sumber
Furqon, Ph.D (editor). 2005. Konsep dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Muhibbin Syach, Drs., M.Ed. 1995, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Sukmadinata, Nana Syaodih. Prof. Dr. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya





Morgan Stanley: Optimisme Ekonomi Indonesia

27 09 2009
 Surya Cipta Industrial Park –
Credit Foto : Pratista

Ketika krisis subprime mortgage mendera dunia, banyak perusahaan kolaps, namun ketika saya googling mengenai keadaan ekonomi Indonesia justru banyak hal yang menarik yang saya temukan. Berbeda dengan sikap pesimis dari dalam negeri, berbagai sikap optimisme justru terus berdatangan dari pengamat luar.
Salah satunya adalah Morgan Stanley adalah salah satu bank investasi terkemuka di Amerika Serikat yang saya kutip dari situs berita MSN bahwa meskipun Morgan Stanley didera krisis keuangan beberapa waktu yang lalu sehingga harus ditolong oleh Pemerintah AS, kemampuan Morgan Stanley dalam melakukan analisis tidaklah surut.
Itulah sebabnya apa yang dikatakan perusahaan tersebut tentang suatu negara senantiasa menarik perhatian para investor. Kredibilitasnya mirip dengan Goldman Sach yang telah berhasil melambungkan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) menjadi suatu kelompok elite negara berkembang saat ini. Dengan latar belakang tersebut, apa yang dikemukakan Morgan Stanley dalam publikasinya yang membahas Indonesia tanggal 12 Juni 2009 lalu memicu perhatian yang besar.
Dalam publikasi yang berjudul Adding another I to the BRIC story? itu, Indonesia mulai dikategorikan setara dengan negaranegara BRIC. Publikasi itu melihat kemiripan Indonesia dengan India sebagai suatu perekonomian yang berbasis penduduk yang besar. Itulah sebabnya Morgan Stanley menyatakan perlu menambah cerita tentang Indonesia, di samping India, dalam akronim BRIC tersebut. Pernyataan dari Morgan Stanley tersebut tentu didasarkan pada berbagai fakta yang berkembang. Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dikategorikan berupa jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang melimpah.
Namun dalam beberapa tahun terakhir sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berasal dari biaya modal yang semakin murah. Sumber pertumbuhan yang lain berupa reformasi kebijakan yang pada akhirnya akan lebih memberikan kesempatan kepada dunia usaha untuk berkembang lebih baik. Terlebih lagi dengan tetap positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa krisis global ini, perhatian dari berbagai investor di seluruh dunia tertuju kepada Indonesia.
Sampai dengan 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia digambarkan dalam grafik mereka mulai melampaui Brasil (yang memang relatif rendah selama bertahun-tahun) dan Rusia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di antara Rusia dan India (dan China). Grafik tersebut akan menjadi lebih menarik lagi jika memasukkan data terakhir tahun 2009 di mana Brasil bahkan mengalami pertumbuhan negatif.
Persepsi dan Prospek Perekonomian Indonesia
Publikasi Morgan Stanley tentang Indonesia tersebut pada akhirnya memperkuat persepsi yang sudah berkembang sampai hari ini tentang prospek perekonomian Indonesia.Persepsi tersebut antara lain terbangun oleh studi yang dilakukan Goldman Sach (N-11: Not just an acronym) pada 2007 yang menempatkan Indonesia dalam kedudukan yang sangat terhormat di antara negara-negara berpenduduk besar yang memiliki prospek ekonomi besar dan tergabung dalam N-11 (Next Eleven) tersebut.
Persepsi tersebut semakin diperkuat oleh studi Pricewaterhouse Coopers (The World in 2050 yang diperdalam dengan Banking in 2050) yang kembali menempatkan Indonesia dalam jajaran perekonomian elite di percaturan perekonomian global. Dengan berkembangnya persepsi semacam itu, minat para investor untuk melakukan investasi di Indonesia menjadi semakin berkembang. Selain bank-bank Inggris yang secara berturut-turut melakukan akuisisi di Indonesia beberapa waktu terakhir,perbankan Indonesia memperoleh perhatian investor yang semakin besar dari seluruh penjuru dunia.
Sampai hari ini masih saja terdengar minat yang serius dari investor maupun bankir asing untuk melakukan akuisisi perbankan di Indonesia. Demikian juga di berbagai sektor ekonomi lain,minat tersebut mirip dengan apa yang timbul setelah maraknya perhatian orang pada negara-negara BRIC.Perkembangan inilah yang akhirnya akan melahirkan self fulfilling prophecy karena minat investor tersebut akhirnya akan mampu merealisasi prediksi Morgan Stanley tentang prospek pertumbuhan Indonesia di tahun 2011 dan sesudahnya.
(Port of Makassar)
Credit Photo:  labbats19xx
Dalam studi Morgan Stanley tersebut, PDB Indonesia yang dalam tahun 2008 dinyatakan sebesar USD509 miliar diprediksi akan mencapai antara USD700 sampai USD800 miliar pada 2013. Prediksi ini mendasarkan diri pada pertumbuhan ekonomi riil sebesar antara 6″7 persen mulai tahun 2011 ke atas.Sebagaimana prediksi dari Goldman Sach yang meleset cukup jauh hanya dalam waktu dua tahun (Goldman Sach memprediksi PDB Indonesia 2010 sebesar USD419 miliar dalam studi N-11: Not just an acronym, padahal pada 2008 sudah mencapai USD509 miliar), bukan tidak mungkin prediksi Morgan Stanley juga akan meleset.

Hal ini terutama berkaitan dengan deviasi yang cukup besar antara pertumbuhan PDB riil dengan PDB nominal yang dikonversikan dalam mata uang dolar AS.Sebagai contoh, dalam tahun 2008, PDB nominal Indonesia tumbuh dengan 25,4 persen,sementara PDB riil tumbuh dengan 6,1 persen. Bahkan setelah dikonversi dengan kurs yang sedikit melemah, pertumbuhan PDB Indonesia dalam dolar menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB riil.

Dengan melihat perkembangan tersebut, PDB nominal yang diprediksi Morgan Stanley sebesar USD700-800 miliar tahun 2013 memiliki kemungkinan akan terlampaui. Ini berarti bahwa PDB nominal Indonesia memiliki kemungkinan akan mencapai antara USD800-1.000 tahun 2013 sehingga memungkinkan Indonesia untuk mencapai pendapatan per kapita sekitar USD5.000 pada saat kita semua memasuki era ASEAN Economic Community tahun 2015.Tingkat pendapatan yang sedemikian akan menempatkan kekuatan ekonomi Indonesia sekitar delapan kali dari kekuatan ekonomi Malaysia saat ini.

Prospek semacam itu akan menjadi lebih cepat terealisasi dengan dukungan perbankan yang lebih besar. Publikasi dari Morgan Stanley tersebut juga memperlihatkan tingkat penetrasi perbankan di Indonesia yang diukur dengan rasio kredit perbankan terhadap PDB termasuk sangat rendah dibandingkan dengan negaranegara BRIC dan dengan negaranegara di kawasan Asia Tenggara.

 Optimisme terhadap perekonomian Indonesia sudah berkembang secara luas di luar negeri. Rasanya kita pantas berharap bahwa optimisme yang sama juga akan semakin berkembang di negara kita sehingga pada ujungnya kesejahteraan masyarakat dapat terus berkembang.





Hati-Hati Memasang Foto Profil di Facebook

26 09 2009

Seringkali orang berpikir untuk merekayasa foto mereka dalam Facebook atau memajang foto yang sebenarnya bukan foto diri mereka.


Terkadang kita temukan seseorang memajang foto zaman dahulu sebagai foto profil mereka di Facebook. Atau ada juga yang menampilkan foto rekayasa yang memperlihatkan mereka bak seorang profesional muda. Tentu sah-sah saja memajang foto sesuai keinginan. Yang terpenting adalah tidak sampai melanggar peraturan di Facebook. Namun tahukah Anda? orang lain yang melihat akan memberikan penilaian lebih dari yang Anda bayangkan.

Akun Facebook seseorang bisa diibaratkan sebagai jendela jiwa si pemiliknya. Orang lain akan memberikan penilaian tertentu pada saat melihat foto Facebook Anda. Demikian keterangan yang dikutip dari Wired.com, Minggu (19/7/2009).

Dalam sebuah artikel psikologi sosial berjudul “Narcissism and Social Networking Web Sites”, Laura Buffardi dan W Keith Campbell dari University of Georgia mengadakan survei terhadap para mahasiswa dan meminta mereka untuk melengkapi sejenis kuesioner yang dinamakan Narcissistic Personality Inventory.

Kuesioner ini digunakan untuk menganalisa penilaian seorang pengguna Facebook yang memajang foto-foto rekayasa atau bukan foto mereka yang sebenarnya.

Menurut Buffardi, hasil penelitian menunjukkan pengguna Facebook yang menggunakan foto berpakaian terbuka dinilai sebagai pribadi yang nakal. Mereka pun memberikan penilaian terhadap foto yang menampilkan orang yang sedang beraktivitas, yang dinilai para partisipan sebagai orang yang atraktif. Penilaian lainnya juga diberikan kepada mereka yang terlihat berkompeten dalam pekerjaan, ataupun mereka yang terlihat kaya atau miskin.

“Mereka diminta menilai seseorang yang belum mereka kenal melalui akun Facebook. Kemudian kami mencocokkan penilaian para partisipan dengan pribadi pengguna Facebook yang dinilai,” kata Campbell.

Campbell menyimpulkan bahwa rata-rata orang memberikan penilaian yang lebih jauh tentang seseorang berdasarkan foto profil mereka di Facebook. Oleh sebabnya Campbell menyarankan kepada para pengguna Facebook agar memajang foto asli yang benar-benar mencerminkan pribadi mereka yang sesungguhnya.

Source: http://j4l4cnd.blogspot.com/2009/07/hati-hati-memasang-foto-profil-di.html





Buku Sekolah Elektronik

26 09 2009

Bagi anda yang sudah mulai menggunakan Komputer ataupun Laptop dan menginginkan file dari buku – buku keluaran BSE atau Buku Sekolah Elektronik, saya mempunyai referensi website untuk mendownload yang sangat bagus

File Buku Sekolah Elektronik yang selalu tersedia di komputer anda, akan memudahkan kita dalam membuat soal – soal maupun mencopy – paste beberapa materi kedalam RPP yang kita buat. Selain itu, semakin banyak sekolah yang menggunakan Buku Cetak yang berasal dari websitenya Depdiknas yang menyediakan buku yang telah dapat diunduh secara gratis ini, namun yang saya perhatikan beberapa sekolah menyediakan buku yang harganya paling murah, walaupun tidak buruk namun ada baiknya kita menvariasikan sumber pembelajaran kita bukan?
Adalah INVIR.COM atau Indonesia Virtual Company yang berbaik hati membuat database yang sangat lengkap mengenai Buku Sekolah Elektronik ini, pasalnya jika kita mendownload langsung di bse.depdiknas.go.id sangat berbelit – belit bahkan saya sulit sekali mendownloadnya, tapi jangan khawatir karena semua jenis buku dari SD/MI, SLTP/MTs, SMU/Madrasah Aliyah hingga SMK ada semuanya, dan mengunduhnya pun tidak sulit karena ukuran buku ini sudah diperkecil. Pengalaman saya mengunduh buku di Website ini untuk buku yang full color dan memiliki gambar yang sangat banyak hanya sekitar 7 hingga 9 MB saja.
Silahkan ada kunjungi websitenya, disini
Saya bukan salesnya website ini lho, tapi website ini juga menyediakan jasa pengiriman langsung dalam bentuk CD yang berisi seluruh buku – buku BSE, harganya pun cukup murah hanya Rp. 30.000/keping.





Malapraktik Bisa Terjadi di Dunia Pendidikan

26 09 2009
Dunia Pendidikan kita yang diharapkan namun juga sering kali disudutkan, memiliki banyak masalah pelik yang harus diselesaikan secara bersama – sama, tindakan pencaci – makian terhadap para Pendidik bukan contoh yang benar dan terpuji, termasuk soal kekerasan dalam sekolah. Apakah Anda sebagai masyarakat tahu bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh 3 lingkungan yaitu Rumah, Sekolah dan Masyarakat?
Jangan sampai kita sebagai masyarakat mencerca sekolah ketika terjadi kekerasan dalam sekolah, anak didik kita tidak mendapatkan hasil yang baik dalam pendidikannya, dan sebagainya.

Permasalahan pendidikan sangat beragam, mulai dari tenaga pendidik yang terbelit utang akibat pada zaman dahulu gaji guru amat kecil, permasalahan Guru Honorer, hingga kesulitan mengayomi anak akibat terlalu intensnya gempuran ajaran – ajaran tidak bermoral yang sering kita lihat di televisi

Dalam sebuah artikel menarik di koran Republika, saya sangat setuju mengenai bagaimana kita harus menghadapi dan mensikapi malpraktik dalam dunia pendidikan. Layaknya orang tua yang harus mengurusi 18 bahkan 40 anak tiap harinya dengan karaktek benar – benar berbeda, Guru dituntut untuk menjadi manusia “paling sempurna”. Namun Guru juga manusia lho (kayak lagunya kang Candil ajah :D:P).

Dalam dunia pendidikan ada beberapa tanda – tanda yang menunjukkan terjadinya malpraktik dalam pendidikan, seperti yang dikemukakan Kepala Sub Direktorat Program Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Abi Sujak, dalam siaran persnya Rabu (2/9)

”Siswa malas belajar, menjadi pasif, dan takut terhadap jenis mata pelajaran tertentu, serta prestasi siswa tidak optimal, ini bisa jadi indikasi malapraktik. Padahal, saat di TK siswa-siswa itu kreatif,” ujar ,

Menurut Abi, indikasi demikian banyak ditemukan pada anak didik. Namun tidak banyak guru yang menyadari bahwa apa yang terjadi pada siswa tersebut sebenarnya merupakan bentuk malapraktik pendidikan. Malapraktik ini, lanjut dia, terjadi akibat beberapa hal. ”Di antaranya guru kurang memahami latar belakang dan bakat siswa serta perbedaan budaya antara guru dengan lingkungan sekolah,” jelasnya.

Untuk menyelamatkan siswa dari malapraktik ini, Depdiknas bakal menerapkan program induksi bagi guru pemula. Program induksi adalah semacam orientasi bagi guru pemula untuk mengenal dan memahami tugas-tugasnya sebagai pendidik, dengan mengedepankan pengenalan lingkungan dan siswa yang akan dihadapi.

Program yang akan diterapkan selama setahun tersebut bakal melibatkan kepala sekolah maupun guru senior untuk menjadi mentor saat guru pemula melakukan tugas pengajaran di kelas. ”Jika dalam evaluasi ternyata guru yang bersangkutan tidak layak mengajar, maka ia tidak bisa dipaksakan menjadi guru. Ia bisa saja dialihkan ke tugas lain seperti administrasi atau petugas perpustakaan,” cetusnya.

Program induksi ini, diakui Abi, untuk sementara hanya diberlakukan pada guru-guru pemula. Pertimbangannya, selain keterbatasan dana, umumnya guru pemula belum banyak mengenal lapangan.

Namun, belum bisa dipastikan kapan program induksi ini bakal diterapkan mengingat payung hukumnya belum ada. Namun Depdiknas sendiri sudah menerapkan program ini pada enam kabupaten percontohan yakni Sumedang, Bantul, Pasuruan, Padang, Banjarbaru, dan Minahasa Utara.

Sementara itu, dari data Depdiknas untuk tiga tahun ke depan bakal ada ribuan guru pemula. Menurut Edy Rahmat Widodo, dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada 2012 nanti terdapat 222 ribu guru yang pensiun, lalu 10 tahun ke depan 470 ribu guru pensiun, dan 15 tahun ke depan 890 ribu guru pensiun.

Edy mengingatkan, 15 tahun ke depan–jika 890 ribu guru pensiun–akan ada sekitar 26,7 juta murid yang akan diajar guru-guru baru. ”Terhadap guru-guru pemula inilah kami akan setting program induksi,”

Nah, Selain menuntut pemerintah untuk tetap memperhatikan dunia pendidikan, marilah kita juga bersama – sama untuk memajukan pendidikan dengan mengawasi anak – anak kita, jangan sampai lebih senang menonton sinetron, bermain playstation atau trek – trekan di jalan daripada sekolah. Kita tidak perlu membatasi anak dalam bermain, boleh main PS asal jangan berlebihan, boleh belajar naik motor asal umur sudah sesuai, boleh nonton TV asal jangan menyita waktu dan tontonlah yang tidak menimbulkan efek negatif.

Kita juga sebagai orang tua dapat memonitor apa yang dilakukan sekolah beserta Guru – gurunya melalui Komite Sekolah. Kita sebagai masyarakat yang beretika sebaiknya janganlah cepat menjustifikasi apa yang dilakukan oleh pihak Sekolah. Sekolah yang baik akan menjawab dengan baik pula apa – apa yang kita tanyakan, juga menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai permasalah yang ada di Sekolah.