Idul Fitri 1430 H, sekelumit cerita dalam materialisme

17 09 2009

Siapapun pasti menunggu datangnya hari kemenangan, sebuah hari yang dimana bagi anak – anak merupakan harinya pesta makanan, baju baru, kue – kue yang lezat, berkumpulnya saudara hingga berlimpahnya uang pemberian sanak saudara. Bagi siswa – siswa saya di kelas III Sekolah Dasar, Idul Fitri dipandang beragam, bagi anak – anak golongan mampu tentu berfikir apa yang saya bicarakan tadi , bagi anak golongan menengah Idul Fitri adalah “berharap seperti golongan atas” dan namun dengan perasaan cemas apakah semua harapan tersebut dapat terwujud?. Namun bagi golongan anak – anak miskin tidak ada hal yang terlalu istimewa bagi mereka, 2-3 hari menjelang lebaran, hanya riuh perkataan ibunya yang kesal dan melampiaskan kepada siapapun yang ada di dekatnya dengan perkataan”Teu boga duit, meuli sangu ge hese, teu kudu nyieun kueh-kuehan we lah cukup ku kupat we “.

  • Sebenarnya Idul Fitri itu apa sih?
  • Bagi anak – anak adalah materi
  • Bagi remaja adalah bersuka ria, menuntut orang tua memberikan uang lebih untuk penampilan mereka di Hari Raya
  • Bagi orang tua adalah bisa menjadi malapetaka ketika APBRT (Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tanggah :p) cekak harus pinjam sana pinjam sini demi memenuhi kebutuhan lebaran keluarga?

Kok materi semua ya, mau remaja mau dewasa kok pemikiranya seperti apa yang dipikirkan anak-anak? Idul Fitri tahun 1430 Hijriah ini, dunia tengah dilanda krisis global yang berkepanjangan, kita tentu sudah capek (termasuk saya :P) mendengar media massa menyiarkan berbagai macam kepedihan akibat ulah manusia (bencana ekonomi, politik, perang, terorisme, pertikaian antar agama) hingga bencana alamiah seperti gempa jawa yang mampu membuat lantai dua rumah saya retak – retak hampir seluruhnya ( ya iyalah rumahnya udah 80+ sih :P). Opini saya (mungkin bener mungkin juga salah) penduduk timur dengan budaya timurnya memiliki ciri berehan (dermawan – red), ramah tamah (suka ngobrol tapi suka bergosip pula :D:P:|), dan kurang materialistis, mengapa? tanya rumput yang bergoyang wkwkwkwkwk… Semua adat orang-orang timur tadi nampaknya tergerus habis setelah revolusi industri yang dimulai abad 19an dan semakin merajalela ke negeri – negeri timur yang dijajah oleh barat, entahlah apakah revolusi industri tersebut membawa kebaikan atau malah lebih banyak membawa kesengsaraan? (inget – inget lupa waktu pelajaran IPS di SD kalo ga salah dimulai dari mesin pemintal kapas jadi benang yang tadinya oleh tenaganya manusia diganti oleh mesin uap yak:p CMIIW) Setelah industrialisasi mulai bergerak ke tanah – tanah baru seperti Amerika, munculah kota – kota dengan pembangunan yang mengerikan, dimana satu kilometer persegi tanah dapat diisi dengan ribuan manusia, dimana manusia – manusia kota ini akan sulit bertahan tanpa uang, disinilah sifat materialistik semakin menjadi – jadi, berbeda dengan masyarakat pedesaan yang hidupnya disokong oleh kekayaan alam ( makan beras hasil dari sawahnya, lauknya ngambil di sungai, buahnya metik sendiri, susunya? ya meres sendiri wkwkwkwk :D). Sifat materialistik ini kemudian semakin ditiru dengan adanya media yang menggambarkan kehidupan orang – orang kota yang sangat glamour, up to date dan trendy. Wah jadi nyambung kemana – mana nih :s Kembali ke laptop…. eh topik ( bisa ngamuk nih Mas Tukul patennya dipake :s) Idul Fitri, kalau kita memandangnya dari sudut materi, tentunya kita hanya dapat melihat “penderitaan dan kekurangan”, kita sendiri lupa kalau esensi dari Idul Fitri itu adalah kemenangan atas satu bulan memerangi hawa nafsu yaitu dengan menjalankan Ibadah Puasa yang merupakan satu -satunya ibadah yang akan dibalas dan langsung untuk Allah.

Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hadist Riwayat Bukhari Muslim)

Jadi, bagaimana? kita masih mau berfikiran layaknya anak-anak? Oh iya, Taqabbalallahu minnaa wa minkum shiamana wa shiamakum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazii’at [79] : 40 – 41). Source: Dari berbagai sumber


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: