Malapraktik Bisa Terjadi di Dunia Pendidikan

26 09 2009
Dunia Pendidikan kita yang diharapkan namun juga sering kali disudutkan, memiliki banyak masalah pelik yang harus diselesaikan secara bersama – sama, tindakan pencaci – makian terhadap para Pendidik bukan contoh yang benar dan terpuji, termasuk soal kekerasan dalam sekolah. Apakah Anda sebagai masyarakat tahu bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh 3 lingkungan yaitu Rumah, Sekolah dan Masyarakat?
Jangan sampai kita sebagai masyarakat mencerca sekolah ketika terjadi kekerasan dalam sekolah, anak didik kita tidak mendapatkan hasil yang baik dalam pendidikannya, dan sebagainya.

Permasalahan pendidikan sangat beragam, mulai dari tenaga pendidik yang terbelit utang akibat pada zaman dahulu gaji guru amat kecil, permasalahan Guru Honorer, hingga kesulitan mengayomi anak akibat terlalu intensnya gempuran ajaran – ajaran tidak bermoral yang sering kita lihat di televisi

Dalam sebuah artikel menarik di koran Republika, saya sangat setuju mengenai bagaimana kita harus menghadapi dan mensikapi malpraktik dalam dunia pendidikan. Layaknya orang tua yang harus mengurusi 18 bahkan 40 anak tiap harinya dengan karaktek benar – benar berbeda, Guru dituntut untuk menjadi manusia “paling sempurna”. Namun Guru juga manusia lho (kayak lagunya kang Candil ajah :D:P).

Dalam dunia pendidikan ada beberapa tanda – tanda yang menunjukkan terjadinya malpraktik dalam pendidikan, seperti yang dikemukakan Kepala Sub Direktorat Program Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Abi Sujak, dalam siaran persnya Rabu (2/9)

”Siswa malas belajar, menjadi pasif, dan takut terhadap jenis mata pelajaran tertentu, serta prestasi siswa tidak optimal, ini bisa jadi indikasi malapraktik. Padahal, saat di TK siswa-siswa itu kreatif,” ujar ,

Menurut Abi, indikasi demikian banyak ditemukan pada anak didik. Namun tidak banyak guru yang menyadari bahwa apa yang terjadi pada siswa tersebut sebenarnya merupakan bentuk malapraktik pendidikan. Malapraktik ini, lanjut dia, terjadi akibat beberapa hal. ”Di antaranya guru kurang memahami latar belakang dan bakat siswa serta perbedaan budaya antara guru dengan lingkungan sekolah,” jelasnya.

Untuk menyelamatkan siswa dari malapraktik ini, Depdiknas bakal menerapkan program induksi bagi guru pemula. Program induksi adalah semacam orientasi bagi guru pemula untuk mengenal dan memahami tugas-tugasnya sebagai pendidik, dengan mengedepankan pengenalan lingkungan dan siswa yang akan dihadapi.

Program yang akan diterapkan selama setahun tersebut bakal melibatkan kepala sekolah maupun guru senior untuk menjadi mentor saat guru pemula melakukan tugas pengajaran di kelas. ”Jika dalam evaluasi ternyata guru yang bersangkutan tidak layak mengajar, maka ia tidak bisa dipaksakan menjadi guru. Ia bisa saja dialihkan ke tugas lain seperti administrasi atau petugas perpustakaan,” cetusnya.

Program induksi ini, diakui Abi, untuk sementara hanya diberlakukan pada guru-guru pemula. Pertimbangannya, selain keterbatasan dana, umumnya guru pemula belum banyak mengenal lapangan.

Namun, belum bisa dipastikan kapan program induksi ini bakal diterapkan mengingat payung hukumnya belum ada. Namun Depdiknas sendiri sudah menerapkan program ini pada enam kabupaten percontohan yakni Sumedang, Bantul, Pasuruan, Padang, Banjarbaru, dan Minahasa Utara.

Sementara itu, dari data Depdiknas untuk tiga tahun ke depan bakal ada ribuan guru pemula. Menurut Edy Rahmat Widodo, dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada 2012 nanti terdapat 222 ribu guru yang pensiun, lalu 10 tahun ke depan 470 ribu guru pensiun, dan 15 tahun ke depan 890 ribu guru pensiun.

Edy mengingatkan, 15 tahun ke depan–jika 890 ribu guru pensiun–akan ada sekitar 26,7 juta murid yang akan diajar guru-guru baru. ”Terhadap guru-guru pemula inilah kami akan setting program induksi,”

Nah, Selain menuntut pemerintah untuk tetap memperhatikan dunia pendidikan, marilah kita juga bersama – sama untuk memajukan pendidikan dengan mengawasi anak – anak kita, jangan sampai lebih senang menonton sinetron, bermain playstation atau trek – trekan di jalan daripada sekolah. Kita tidak perlu membatasi anak dalam bermain, boleh main PS asal jangan berlebihan, boleh belajar naik motor asal umur sudah sesuai, boleh nonton TV asal jangan menyita waktu dan tontonlah yang tidak menimbulkan efek negatif.

Kita juga sebagai orang tua dapat memonitor apa yang dilakukan sekolah beserta Guru – gurunya melalui Komite Sekolah. Kita sebagai masyarakat yang beretika sebaiknya janganlah cepat menjustifikasi apa yang dilakukan oleh pihak Sekolah. Sekolah yang baik akan menjawab dengan baik pula apa – apa yang kita tanyakan, juga menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai permasalah yang ada di Sekolah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: